Permasalahan Personal di Masa Pandemi

permasalahan di masa pandemi
Sudah lama sepertinya saya tidak membuat konten yang organik. Kembali menulis konten organik, original dan fully based on experience membantu mengalirkan kembali pikiran yang sudah sumpek.

Sumpek dan capek. Apalagi kalau sudah kerja keras bikin artikel tertentu yang dioptimasi sedemikian rupa. Riset keyword sana-sini, eh ternyata kontennya masih belum sesuai search intent

Dampaknya? Frustasi terus artikelnya nggak muncul-muncul di page one, trafik begitu-begitu aja. Hahahaha nasib nasib.

Itu hanya sekelumit masalah yang saya hadapi. Belum lagi masalah-masalah lain yang juga cukup banyak muncul ya terutama saya duga karena kondisi pandemi ini.

Semenjak pandemi terjadi, saya merasakan beberapa hal yang berubah. Baik itu dari dalam diri saya sendiri ataupun yang dari luar.

Permasalahan Personal di Masa Pandemi

1. Mudah lelah, fisik maupun pikiran

Masa pandemi mengharuskan saya sebagai seorang pembelajar ini untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar secara sinkron (daring). Walaupun kelihatannya terkesan begitu saja, tinggal duduk diam sambil mendengarkan, nyatanya tidak sesimpel itu.

Rasanya pikiran jauh lebih cepat kusut dan efeknya secara tidak langsung merambat ke fisik. 

Biasanya dengan kondisi belajar normal (tatap muka di kelas) saya mampu untuk fokus dalam memahami materi dengan baik. Eh dengan kondisi serba online begini, saya jadi sering tiba-tiba hilang fokus begitu saja.

Padahal saya sendiri merupakan orang yang cenderung butuh pemahaman dari penjelasan secara langsung yang nanti akan diperkuat ketika belajar lagi di kemudian hari (lebih tepatnya sebelum ujian) *aduh maaf sepertinya jangan dicontoh ya haha.

Dan kegiatan duduk-duduk manis ini ternyata malah membuat badan sering pegal. Ya memang sepertinya hal ini diperparah karena saya jadi kurang berolahraga, dalam kata lain menjadi mager.  

2. Merindukan kegiatan bertatap muka

Nah kalau masalah sebelumnya itu terkait dengan hal akademik, yang satu ini mengenai aspek sosial.

Pada dasarnya saya ini termasuk orang yang cenderung introvert. Entah Anda percaya atau tidak percaya tentang konsep introvert dan ekstrovert simpan saja dulu.

Orang introvert biasanya dipandang sebagai orang anti sosial, tidak mau bergaul lalala. Tolong ya untuk tidak lagi berpemikiran seperti itu. Karena kenyataannya tidak sepelik itu. 

Definisi atau lebih tepatnya prinsip yang sesuai dengan tingkah laku sebagian introvert itu adalah para introvert itu sejatinya membutuhkan treatment yang khusus dalam mengisi "energi".

Orang yang dikenal introvert itu "energi"nya akan terkuras ketika berinteraksi dengan orang lain. Dan untuk mengisi ulang / recharge, biasanya yang dilakukan adalah menghindar sejenak dari keramaian atau yang sering juga disebut dengan istilah keren "me time".

Sebaliknya untuk orang ekstrovert. Mereka malah akan mendapatkan "energi" ketika berinteraksi dengan orang lain. Ketika dalam kondisi sendiri malah lesu.

Dari penjelasan tersebut sekiranya sudah bisa mengaitkan antara kecenderungan pola kepribadian dengan kondisi pandemi.

Pandemi - harus jaga jarak - meminimalisir kegiatan tatap muka dengan banyak orang - kegiatan berlangsung daring. 

Seharusnya dengan begini para introvert termasuk saya pasti senang dong ya, karena tidak perlu melakukan kegiatan yang akan menguras habis "energi" lewat banyak kegiatan tatap muka. Tapi anehnya setelah melewati masa-masa seperti ini, saya jadi malah merindukan hal yang dulu normal dan biasa dilakukan.

Mungkin inilah yang dinamakan proses adaptasi kebiasaan baru (new normal). Sesuatu yang lalu akan dirindukan ketika sudah tidak dilakukan lagi. Ya mirip-mirip dengan liriknya "Let Her Go" dari Passenger lah kurang lebih. 
Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

3. Mood Mudah Berubah-ubah

Ini mungkin masih berkaitan dengan poin pertama tadi. Pikiran mudah lelah karena terlalu fokus pada layar selama beberapa jam, tidak melakukan hal lain.

Ah padahal saya ingin sedikit membanggakan diri karena mampu terfokus dalam satu hal saja dalam suatu waktu. Tetapi kenyataannya karena terlalu fokus ini, yang mana fokusnya hanya pada layar laptop, bukan hanya membuat mata lebih mudah lelah tapi juga membuat pikiran yang semakin mudah loyo saja.

Pikiran yang loyo membuat saya tidak mampu mempertahankan kondisi kesetimbangan mood dan itulah yang membuat mood menjadi sering berubah-ubah tidak seperti biasanya.

Jadi seperti ini rasanya punya kecenderungan untuk mengalami perubahan mood secara tiba-tiba. Akan sangat melelahkan sekali apalagi ketika sedang berada pada kondisi yang mengharuskan pikiran tetap prima. Pengejaran deadline akan terasa sedikit lebih menyakitkan dibanding pada kondisi pikiran yang lebih stabil.

Itu dia segelintir permasalahan yang saya hadapi akhir-akhir ini. Entah kenapa memang yang namanya perubahan itu kadang terasa sangat berat sekali. Disinilah kemampuan adaptasi manusia diuji.

Sangat bersyukur manusia diberikan kemampuan adaptif ini. Bisa mengembangkan diri menuju yang lebih baik lagi untuk kedepannya. Jangan sampai diri kita kalah dengan perubahan-perubahan itu. Jangan terjebak dalam aliran yang hanya menghanyutkan diri begitu saja.

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan. Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidup. Aamiin.

7 Cara Mengembalikan Motivasi Belajar

cara mengembalikan motivasi belajar

Kondisi pandemi menuntut para pelajar dan mahasiswa, termasuk saya, harus menjalani kegiatan belajar mengajar secara daring dari rumah.

Pembelajaran daring memang memicu pro dan kontra dalam pelaksanaannya. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat keadaan darurat yang juga tiba-tiba terjadi.

Situasi dan kondisi belajar yang benar-benar berbeda dengan keadaan normal membuat permasalahan akut yang mungkin juga pernah kalian rasakan juga. Apalagi kalau bukan tentang motivasi belajar.

Belajar yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka memberikan kita akses secara langsung dengan sarana dan prasarana penunjang materi. Bisa bertatap muka dengan guru/dosen, bercengkerama dan berdiskusi dengan teman, menjalani kegiatan praktek dengan gembira adalah secuplik hal-hal yang tak bisa terpenuhi dengan semestinya.

Oleh karena itu tidak jarang setelah beberapa waktu akan terasa sedikit hilang arah karena kehilangan motivasi dalam belajar. Kehilangan motivasi akan berdampak kepada kualitas belajar dan lebih jauh lagi akan berpengaruh pada tingkat pemahaman.

Jika terus dibiarkan lama-lama kita akan menjadi siswa/mahasiswa yang kopong. Kopong dalam artian sedikit sekali ilmu yang kita serap selama proses pembelajaran berbasis daring ini. Sayang sekali bukan, kita sudah capek-capek belajar di depan komputer, laptop, hp yang membuat mata kusut tapi ilmu yang didapat kurang maksimal gara-gara kurang fokus lalala akibat kurang motivasi.

Saya sendiri bukan orang yang perfect ya, jadi sudah barang pasti juga pernah mengalami kondisi kurang motivasi dalam belajar. Ketika sudah seperti itu rasanya semua tugas-tugas dianggap sebagai beban. Dan inginnya beban-beban itu dibiarkan saja terbengkalai tidak ditindaklanjuti. Padahal mau tidak mau hal itu harus dikerjakan.

Alhasil yang terjadi seluruh pekerjaan bisa bertumpuk jadi satu dalam suatu waktu tertentu. Wah pusing bukan kepalang kalau sudah seperti itu jadinya.

Tetapi alhamdulillah, karena saya orangnya selalu berusaha mengambil sisi positifnya. Kegiatan kusut tadi ya mau tidak mau harus diselesaikan, mengingat semua itu merupakan kewajiban yang tidak bisa digugurkan begitu saja.

Dan kemudian dari situ saya mencoba untuk mulai berubah sedikit demi sedikit. Mencari tahu sebenarnya apa yang bisa meningkatkan motivasi belajar saya. Agar tidak terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan dan membuat pikiran menjadi tidak tenang seperti sebelumnya.

Itulah yang melatarbelakangi saya untuk sedikit berbagi tips pada kalian bagaimana cara mengembalikan motivasi belajar yang mungkin sudah lama menghilang dari diri kalian.

Cara Mengembalikan Motivasi Belajar

1. Tetapkan Tujuan Dengan Jelas

Tips pertama yang menurut saya penting untuk dijalani adalah menetapkan tujuan belajar yang jelas.

Tujuan ini akan mengatur dan mengarahkan diri kita menuju "jalan yang benar". Setidaknya dengan adanya tujuan yang jelas ini kita sudah punya sedikit panduan. Mau kemana sih arahnya nanti atau setelah belajar ini aku harus dapat apa sih.

Mungkin tujuan ini bisa sesimpel karena ingin dapat nilai yang bagus. Menurut saya itu sudah sangat membantu ya. Karena kalau sudah punya tujuan maka pikiran secara tidak sadar pun akan bertindak mengarahkan kita untuk bisa mencapai tujuan tersebut.

Dan jikalau dengan tujuan semacam itu kalian sudah berhasil, maka kalian bisa upgrade lagi misalnya menjadi target jangka panjang. Bukan cuma untuk mendapat nilai bagus melainkan untuk lulus dengan baik dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi ke sekolah/universitas xxx. Atau yang semacamnya sesuai dengan passion kalian nantinya.

2. Breakdown Tujuan

Setelah kita berhasil mendefinisikan tujuan, langkah selanjutnya adalah mem-breakdown tujuan-tujuan tadi ke dalam bentuk yang lebih kecil.

Breakdown disini maksudnya adalah untuk memudahkan kita dalam meraihnya, ya istilahnya agar tujuan tadi bisa lebih terlihat jelas tidak terlalu terawang-awang. Karena terkadang kita bisa dengan mudahnya menentukan tujuan, tetapi pada prakteknya agak sulit dalam meraihnya. Merasa sangat sulit dalam mengusahakan tujuan itu akhirnya motivasi pun hilang, tidak terkecuali dalam hal belajar seperti ini.

Mungkin disini saya akan berikan sebuah contoh bagaimana cara membreakdown tujuan yang berkaitan dengan pembelajaran. Mohon maaf kalau terlalu klise atau mengada-ada ya contohnya, tapi semoga bisa sedikit menjelaskan.

Tujuan besar: masuk 10 besar peringkat kelas di akhir semester

Tujuan besar itu tadi bisa di breakdown menjadi,
- Meningkatkan nilai mata pelajaran yang masih kurang (mapel A B F)
- Mempertahankan nilai mata pelajaran yang sudah bagus (mapel C D H)

Dua poin tadi juga bisa di-breakdown lebih lanjut dengan mempertimbangkan materi dari setiap mata pelajaran tersebut. Dengan begitu kalian akan lebih mudah men-trace jalur dengan membuat to do list yang bisa kalian tempuh untuk bisa meraih tujuan akhir.

3. Cari Kompetisi

Kadangkala bergerak sesuai pace kita sendiri itu adalah cara yang bijak. Agar kita tidak mudah iri dan dengki terhadap kesuksesan orang lain yang belum kita gapai.

Namun terlalu lama berjalan dengan pace sendiri juga tidak menghasilkan dampak yang baik juga. Istilah kerennya mungkin kita akan cenderung menjadi orang yang terjebak dalam zona nyaman.

Kok bisa begitu?

Bayangkan saja jika kita senantiasa hidup santuy tidak tengok kanan kiri melihat orang lain sudah sampai mana. Yang terjadi malah kita akan semakin terjebak dalam ke-santuy-an itu. Merasa diri sudah berada pada posisi yang optimal. Padahal kenyataannya di luar sana orang-orang sudah berlarian kesana kemari meraih apa yang mereka cita-citakan.

Untuk itu mencari kompetisi adalah sarana untuk selalu mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam zona nyaman, terlalu lama berjalan dengan pace kita sendiri.

Sesekali berlomba mencoba mengikuti pace orang lain akan menjadi proses evaluasi apakah kita sudab bisa dikatakan setara dengan mereka. Ini adalah contoh kasus ketika kondisinya sedang mempelajari sesuatu yang baru. Kita tidak akan pernah tahu apakah hal yang kita pelajari itu sudah berhasil ketika tidak kita bandingkan dengan orang lain.

Jadi dalam hal belajar seperti ini, salah satu kompetisi yang paling sederhana ya berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai yang bagus dalam suatu mata pelajaran tertentu. Tentunya dengan cara-cara yang halal dan tidak menyimpang dari aturan ya kawan, yaitu dengan belajar yang tekun.

Berkompetisi lah dengan sehat, niscaya kalian akan mendapatkan dampak positif yang nantinya bisa meningkatkan motivasi belajar kalian.

4. Mulai dari Apa yang Disukai

Biasanya ini adalah hal yang umum terjadi ketika motivasi belajar hilang. Motivasi belajar hilang karena merasa tidak ada pelajaran yang cocok dengan kemauan dan minat kita.

Dari awal saja sudah tidak berminat lalu bagaimana mau memulai? Itulah yang menjadi kunci.

Kita harus mampu menemukan sekecil-kecilnya sesuatu yang bisa menjadi inisiator atau pemicu motivasi belajar kita, walaupun itu pelajaran yang ternyata tidak kita sukai.

Jadi seberat apapun materinya, setidaksukanya kita terhadap pelajaran itu, kita harus bisa menemukan hal kecil tadi agar supaya motivasi belajar kita bisa timbul kembali.

5. Penuhi Pikiran Dengan Hal Positif

Kalian mungkin bisa mencoba tips yang satu ini. Mendekorasi lingkungan sekitar kamu menjadi lingkungan yang lebih mendukung mood kamu.

Maksudnya adalah mengatur sedemikian rupa misalnya kamar/ruangan belajar/meja belajar kalian menjadi senyaman mungkin. Agar supaya kalian terus semangat dan tidak begitu saja kehilangan motivasi dalam belajar.

Hal yang bisa kalia lakukan dengan menambahkan pernak-pernik kesukaan kalian, menempelkan foto-foto penyemangat ataupub memasang tulisan kata-kata mutiara mengenai kehidupan yang bisa kalian dapatkan dengan mudah di Google hahaha.

Jangan salah, kata-kata mutiara itu mungkin terlihat klise dan terlalu cringe ya kalau dilihat-lihat. Tetapi bagi saya, yang cukup fanatik dengan topik-topik pengembangan diri, kata-kata mutiara tersebut menjadi semacam acuan yang nantinya bisa kita modifikasi sendiri.

Karena memang kata-kata mutiara itu tidak melulu murni dari perkataan seseorang yang bijak dan terkenal. Bisa saja kata-kata itu sebenarnya muncul dari pihak anonim yang kemudian dikaitkan dengan tokoh tertentu. Jadi daripada memusingkan hal sepele seperti itu, akan lebih baik kalau kita menciptakan kata-kata mutiara sendiri. Yang mana dari segi impak akan jauh lebih bermakna jika berhasil diterapkan.

6. Ingat Orang Tua

Kita sebagai anak merupakan "investasi" yang dimiliki oleh orang tua. Investasi disini jangan disalahartikan kemana-mana ya. Tinjau dari sisi positifnya saja.

Orang tua menyekolahkan anak-anaknya agar kelak bisa meniti kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Pembelajaran yang didapatkan di masa sekolah diharapkan mampu mengembangkan pola pikir kita.

Tidak terukur lah begitu ya kalau boleh dibilang berapa banyak nominal yang sudah orang tua kita keluarkan untuk memberikan fasilitas pendidikan anaknya. Dan oleh karena itulah, kita yang sedang menjalani pendidikan seperti ini harus tahu diri dan senantiasa bertanggung jawab atas apa yang orang tua cita-citakan dan harapkan dari kita.

Cobalah sedikit merenungi hal ini pada suatu malam begitu ya, renungkan apa saja yang sudah kita lakukan dalam rangka memenuhi tanggung jawab ini. Tanggung jawab atas pemberian kesempatan dari orang tua yang sebegitu besar perannya dalam memperjuangkan anak-anaknya.

Hal ini sering saya lakoni dan hasilnya positif. Dengan sedikit berintrospeksi diri sejenak akan membakar semangat dan mengembalikan motivasi belajar yang sebelumnya hilang dalam pikiran. Jadi menurut saya hal ini juga patut kalian coba sendiri.

7. Berdoa, Berdoa dan Berdoa

Sebagai manusia yang memercayai keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa, maka sudah sepatutnya kita senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya. Agar selalu diberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan khususnya ketika sedang menemui rintangan-rintangan seperti saat kehilangan motivasi belajar. 

Semoga segala kesusahan dan rintangan yang kita semua hadapi bisa dijalani dengan penuh kesabaran dan semoga apa yang kita semua cita-citakan bisa dikabulkan. Aamiin

Mulai Menyusun To Do List

membuat-to-do-list

Manajemen waktu adalah salah satu hal yang perlu diperhatikan sebagai seseorang yang senantiasa bergulat dengan waktu. Pekerjaan demi pekerjaan, kegiatan demi kegiatan yang terjadi setiap harinya tidak ada habis-habisnya menghiasi kehidupan kita.

Dalam beberapa kondisi, hal yang terkesan rumit ini sering membuat kita seakan-akan tidak memiliki cukup waktu dalam satu hari penuh (24 jam). Rasanya hidup selama 24 jam itu tidak cukup untuk melakukan segala kegiatan yang harus dipenuhi.

Tidak terkecuali saya sendiri. Memang saya sebenarnya tergolong orang yang cukup santuy dalam hidup. Tidak terlalu banyak hal yang bisa seketika membuat kepala pusing tujuh keliling karena ini dan itu.  

Tapi ada kalanya juga dalam satu waktu tertentu ketika dimana hari-hari tersebut seringnya saya sebut hari keos, agak keteteran juga untuk menentukan mana yang harus dilakukan. 

Atau bahkan dalam kasus tertentu saya malah tidak mampu memanfaatkan waktu luang dengan baik. Waktu luang dibiarkan berlalu begitu saja tanpa dilalui dengan progress-progress yang akan sangat membantu di kemudian hari. 

Oleh karena itulah, saya yang notabenenya bukan merupakan orang yang terstruktur dan teratur ini mulai mencoba melirik untuk membuat hidup lebih teratur. Dengan cara menyusun to do list.

Membiasakan hal baru ini memang cukup sulit ya. Butuh usaha yang lebih agar kebiasaan baru ini bisa terpatri dengan baik sehingga akan terbentuk kebiasaan baru yang akan menggantikan kebiasaan lama.

Tapi berhubung aslinya saya ini cukup tertarik dengan masalah pengembangan diri ya kenapa tidak dicoba dulu saja gitu kan. Siapa tahu akan berhasil dan berguna di kemudian hari.

Lalu apa saja yang saya lakukan untuk menyusun to do list?

Cara Membuat To Do List yang Efektif

1. Menuliskan Kegiatan yang akan Dilakukan

Hal pertama yang paling penting saat menyusun to do list adalah mencari tahu kegiatan apa saja yang ingin dilakukan. 

Katakanlah Anda ingin membuat to do list harian. Anda harus merencanakan apa-apa saja bakal dilakukan esok hari harus sudah dirumuskan pada hari sebelumnya. Berlaku jugaa untuk skala yang lebih panjang seperti mingguan ataupun bulanan.

Merencanakan hal-hal yang ingin dilakukan di kemudian hari akan membantu kita untuk hidup lebih terstruktur dan teratur. Dengan begitu kita akan terbiasa untuk mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan sehingga diharapkan nantinya potensi dari dalam diri kita juga senantiasa terasah dengan baik.  

2. Menentukan Skala Prioritas

Lalu yang kedua ini lebih opsional ya menurut saya atau lebih advance. Dari kegiatan-kegiatan yang sudah dirumuskan tadi juga bisa diurutkan berdasarkan skala prioritasnya. Mana yang urgent dan mana yang kurang urgent.

Hal ini akan membantu Anda untuk mengalokasikan waktu yang tepat dari setiap kegiatan yang harus dilakukan. 

Tetapi untuk yang belum terbiasa dan baru mulai belajar menyusun to do list, menurut saya tidak usah dipaksakan dahulu. Dengan adanya list itu tadi saja sudah sangat membantu mengingatkan apa-apa saja yang harus dikerjakan pada saat itu juga.

3. Buat Dalam Bentuk Checklist

Tips lain dari saya adalah menyusun checklist dari kegiatan-kegiatan tersebut. Adanya checklist ini bisa menjadi penanda hal mana yang sudah dikerjakan (bisa ditandai dengan contreng, silang atau dicoret) dan mana yang belum. 

Dengan begitu tracing kegiatan secara berkala dapat dilakukan lebih mudah.

4. Tambahkan Pesan Kesan Evaluasi 

Nah ini juga yang sangat penting. Utamanya bagi yang baru saja memulai.

Idealnya sudah pasti kita ingin menyelesaikan semua hal yang sudah kita list sebelumnya. Akan tetapi pada prakteknya tidak akan semudah itu juga. Bagi orang yang belum terbiasa hidup secara terstruktur macem saya ini juga cukup sulit untuk mengikuti ritme baru seperti ini. Jadi sudah sangat wajar misalnya ada satu dua hal yang belum terselesaikan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.

Namun kembali lagi tujuan awalnya adalah proses membentuk kebiasaan baru ke arah yang lebih baik lagi. Jadi setiap akhir rentang waktu yang telah ditentukan, dalam hal ini saya mengambil contoh to do list harian, maka saya akan melakukan proses evaluasi di malam harinya. 

Proses evaluasi ini gunanya untuk mengetahui apa-apa saja yang sekiranya masih kurang atau hanya sekadar menuliskan sepatah dua patah kata yang menggambarkan kondisi perasaan ketika melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. 

Hal seperti ini akan berdampak positif pada proses pengembangan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Jadi bagi Anda yang merasa masih keteteran dengan waktu mungkin tips-tips diatas bisa mulai anda coba sekarang juga.

Melepaskan Diri dari Sikap Pasif

berhenti-bersikap-pasif


Terjebak dalam kondisi diri yang pasif. Jujur ini adalah salah satu masalah yang masih sering saya temui. Pastilah pernah diantara kita mengalami hal semacam ini, suatu ketika seakan-akan tidak punya motivasi sama sekali untuk menjalani hidup sebagai mana mestinya, walaupun sebenarnya banyak tugas, pekerjaan dan kejaran yang terus menanti dan menunggu untuk diselesaikan. 

Kalau sudah terjebak, biasanya akan butuh dorongan yang kuat untuk bisa memotivasi diri kembali. Dan cara menemukan motivasi itulah yang menjadi tantangan agar tidak mudah terjembab dalam lubang kepasifan seperti ini.

Pasif disini coba saya definisikan sebagai kondisi dimana kita tidak menjalankan kegiatan sebagaimana mestinya, tidak seperti hari-hari normal biasanya. Pikiran lesu, malas untuk bergerak, pengennya rebahan terus padahal banyak tugas/pekerjaan yang terus berdatangan dan perlu diselesaikan. 

Baca juga artikel mengenai Kumpulan Metode Mencatat yang Efektif

Pasif ini juga bisa diartikan sebagai kondisi ketika kita hanya mampu mengangguk-angguk dengan jalannya kehidupan, tidak mampu menentukan jalan kita sendiri. Terus-menerus terbawa dengan gempuran situasi dari luar diri kita.

Perilaku seperti ini bisa muncul kapan saja dan tidak pandang waktu. Kalau ada sesuatu yang memicu, wah bisa langsung kambuh deh dan cara menghilangkannya juga masih belum saya temukan bagaimana racikannya. Karena suatu ketika bisa hilang begitu saja, saya bisa kembali menemukan motivasi diri. Tapi suatu ketika terasa sulit untuk dihilangkan.

Penyebab Timbulnya Perilaku Pasif

Perilaku pasif umumnya terjadi ketika sedang mengalami kebuntuan dalam sesuatu, entah itu tentang pekerjaan atau kehidupan secara umum. Ketidakkuasaan diri dalam mencari solusi secara efektif inilah yang menyebabkan kondisi jasmani dan rohani menjadi lelah.

Karena lelah otomatis kita akan merasa kecewa, putus asa dan akhirnya menjadi orang yang pasif. Pasif disini berarti tidak melakukan apa yang seharusnya dijalani seperti biasanya. Nah biasanya ada tiga hal yang umum menyebabkan sifat pasif ini. 

Kurang Motivasi

Motivasi menjadi faktor penting dalam melakukan sesuatu. Tidak mungkin anda berniat dan segera beraksi kalau tidak memiliki motivasi sama sekali.

Bagi anda yang sudah bekerja seharusnya punya motivasi lebih yang mendorong anda harus tetap bekerja, terlebih jika sudah berkeluarga. Ada kebutuhan untuk menafkahi jadi mau tak mau mendapat penghasilan sudah barang pasti menjadi motivasi anda ketika bekerja.

Lain halnya untuk kondisi yang bukan bekerja, contohnya seperti belajar. Bagi pelajar / mahasiswa, termasuk saya, yang sedang menempuh pendidikan juga kerap kali mengalami kehilangan motivasi. 

Hilangnya motivasi menyebabkan timbulnya rasa malas. Malas belajar otomatis menjadi tidak paham materi. Alhasil nilai pun jeblok. Kira-kira alurnya seperti itu. 

Apalagi di masa sekarang, ketika belajar harus dilakukan dari rumah. Situasi belajar mengajar terasa semakin hilang esensinya. Yah walaupun saya juga sempat membahas mengenai teknik self-learning untuk mengatasi hal semacam ini, tetapi kondisi pikiran menjadi semakin jenuh saja sehingga motivasi untuk terus konsisten belajar pun ikut memudar. 

Tidak terkecuali dalam kehidupan sehari-hari secara umum. Kita yang sampai detik ini masih menghadapi pandemi juga sangat rentan untuk kehilangan motivasi. Ketidakbebasan untuk bergerak kemana-mana akan semakin meningkatkan kecenderungan untuk menjadi orang yang pasif. 

Tidak punya tujuan

Saya rasa hal ini masih cukup berhubungan dengan masalah motivasi. Kita akan senantiasa berjuang dalam sesuatu apabila punya tujuan yang jelas. Dengan tujuan itu kita memiliki motivasi untuk terus bergerak.

Sekiranya banyak orang yang juga setuju apabila hidup itu harus punya tujuan. Karena ketika tidak punya sama sekali, hidup menjadi tidam terarah. Mudah sekali terombang-ambing diluar sana, mudah mengikuti arus yang bisa jadi mengarahkan kita menuju tempat yang salah. 

Kalau kita sudah menetapkan tujuan yang jelas, entah itu tujuan jangka pendek ataupun jangka panjang. Kita pastinya bisa menyusun langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan. Dengan begitu akan ada alasan lebih bagi kita untuk tidak berdiam diri dan menjadi pasif.

Analysis Paralysis

Pernah terhanyut terlalu dalam ketika berpikir tentang sesuatu? Memerlukan waktu yang lama dalam mengambil keputusan? Inilah yang dinamakan analysis paralysis. 

Istilah gampangnya mungkin menjadi overthinking akan suatu hal. Ketika proses pemecahan masalah memerlukan analisis dan dari situ ternyata anda malah terjebak terlalu lama pada tahapan itu. 

Saya coba mengambil contoh dari pengalaman pribadi yang biasanya sering muncul. 

Jadi kondisinya saya sedang mengerjakan tugas/pr. Isinya ada tiga soal. Nah soal nomor 1 ternyata bisa mudah diselesaikan. 

Oke lanjut ke nomor 2. Soal nomor 2 ini berisikan pertanyaan konsep yang ternyata belum saya pahami betul, maka dari itu saya pun mencoba untuk mencari dan membaca referensi terkait soal itu. Ternyata setelah dikulik lebih jauh, pembahasannya sangat komprehensif dan membuat saya semakin terpaku dengan hal ini. 

Di satu sisi ini bisa sangat bagus untuk pemahaman, karena kita akan semakin paham mengenai hal tersebut. Ada kemauan untuk terus mengeksplor materi itu. 

Namun di satu sisi pr saya tidak kunjung selesai, masih stuck di nomor 2 hingga waktu yang lama. Situasi seperti inilah yang akan menyebabkan sifat pasif karena kita membutuhkan waktu yang lama untuk berprogress ke depan.

Sangat merugikan bukan, apalagi kalau anda sebenarnya punya jadwal yang sudah padat, semuanya jadi terhambat

Pertanyaannya sekarang
Emang kenapa kalau kita terus bersikap pasif?

Bagi beberapa orang sikap pasif itu cenderung digambarkan dengan konotasi negatif. Biasanya disandingkan dengan malas, tidak punya tujuan, tidak mau berusaha dll. 

Yang artinya tidak memiliki kemauan untuk bergerak ke depan, pasrah dengan keadaan terus begitu-begitu saja.

Karena dengan berperilaku pasif akan sulit mendapatkan apa yang kita mau. Kenapa bisa begitu? Pasif tidak melakukan apa yang seharunya bisa menyebabkan kita tidak bisa manfaatkan kesempatan. 

Kesempatan itu bisa datang kapan saja, tak bisa diprediksi kapan datangnya jadi setiap ada kesempatan yang datang harus dimanfaatkan betul kalau ingin berhasil. Jangan sampai peluang kesuksesan lewat begitu saja didepan mata karena sifat pasif ini.

Jadi marilah tinggalkan sifat pasif yang sangat merugikan ini. Walaupun sekarang masih dalam masa pandemi yang notabenenya kita seakan-akan dipaksa untuk menjadi lebih "pasif" dibanding biasanya, tidak bisa bepergian kemana-mana entah sampai kapan. 

Jangan sampai situasi seperti ini memicu kita untuk hanya bisa pasrah dan bersikap pasif begitu saja. Karena masih banyak kegiatan yang bisa dilakukan walaupun semuanya harus dilakukan dari rumah. Temukan sisi positifnya dan terus semangat dalam meraih mimpi!

Pernah Mendengar Teknik Napoleon? Inilah Teknik Meningkatkan Produktivitas dengan Cara Menunda Sesuatu

teknik-napoleon

Saya rasa anda pasti sedikit banyak pernah mendengar dan tahu mengenai Napoleon. Yap, Napoleon Bonaparte adalah salah satu tokoh berpengaruh di abad ke-18 lalu, dikenal sebagai seorang pemimpin militer dan politik Prancis ketika masa-masa Perang Revolusioner.

Nah tapi pernahkah kalian mengetahui Teknik Napoleon atau Napoleon Technique? Saya rasa masih banyak yang belum mengenal salah satu teknik pengembangan diri ini. Teknik Napoleon adalah suatu teknik yang bisa membantu untuk meningkatkan produktivitas dengan cara menunda urusan dengan sesuatu, yang harapannya suatu permasalahan tersebut akan teratasi dengan sendirinya tanpa perlu mengurusinya secara langsung. 

Terdengar agak aneh ya mungkin. Lantas bagaimana bisa dengan menunda sesuatu malah bisa meningkatkan produktivitas kita?

Sejarah Singkat terkait Teknik Napoleon 

Teknik Napoleon
Potret Napoleon Bonaparte. Sumber

Mari kita lihat kembali sekilas mengenai sejarah tentang Napoleon.
“It was a whimsical economy of the same kind which dictated [Napoleon’s] practice, when general in Italy, in regard to his burdensome correspondence. He directed Bourrienne to leave all letters unopened for three weeks, and then observed with satisfaction how large a part of the correspondence had thus disposed of itself and no longer required an answer.”
Dikutip dari Napoleon; or, the Man of the World”, yang ditulis oleh seorang filsuf dari Amerika Serikat bernama Ralph Waldo Emersonin.

Baca juga artikel mengenai Sejarah: Dari Masa Lalu, Untuk Masa Kini dan Masa Mendatang


Kutipan di atas menceritakan bahwa suatu ketika Napoleon memutuskan untuk tidak membuka surat-surat yang ia terima selama tiga minggu. Lalu kemudian dia menemukan manfaat akan hal tersebut karena dia tidak lagi harus mengurusi permasalahan-permasalahan sepele yang sejatinya akan terselesaikan dengan sendirinya atau terkait permasalahan yang sudah tidak perlu dijawab lagi.

Apa itu Teknik Napoleon?

Teknik ini didasari oleh perilaku dari Napoleon sendiri yang mencoba untuk menunggu terlebih dahulu stimulus dari suatu permasalahan yang datang, seiring berjalannya waktu dengan mengabaikan hal tersebut sekiranya nanti masalah akan terselesaikan dengan sendirinya tanpa memerlukan perhatian lebih kepada hal tersebut. 

Contoh kasus yang umum dan juga sederhana adalah ketika kita menjumpai masalah minor pada komputer/laptop. Entah apakah ini contoh yang cukup tepat tapi saya mencoba untuk menggambarkannya dengan mudah. 

Misal suatu ketika anda hendak menyalin sebuah file dari teman anda, yang tentu membutuhkan flashdisk untuk melakukannya. Anda menerima flashdisk yang sudah berisikan file dari teman anda ini lalu menghubungkannya ke komputer/laptop. Dari sini saya asumsikan flashdisk teman anda ini bersih dari berbagai macam virus komputer. Dan anda juga sudah memasang proteksi antivirus yang mutakhir di komputer.

Sesaat setelah mencolokkan flashdisk ke komputer, muncul pemberitahuan “Flashdisk mungkin berada pada kondisi riskan, lakukan pemindaian secara menyeluruh?". Kira-kira seperti itu, berhubung saya juga tidak tahu betul pemberitahuan yang sebenarnya seperti apa, jadi mohon maaf. 

Tapi pada intinya ada mengacuhkan pemberitahuan tersebut, mengingat kondisi komputer dan flashdisk sudah dijamin prima, bersih dari berbagai macam virus dan sudah terproteksi dengan baik. 

Dengan begitu anda bisa fokus memindahkan file dari dalam flashdisk ke komputer dan segera menyelesaikannya. Tanpa perlu mengutak-atik terlebih dahulu pemberitahuan yang muncul tadi. Lebih-lebih kalau ternyata anda kurang terlalu paham masalah perkomputeran semacam ini. Sepertinya hanya akan membuang-buang waktu saja kalau dipaksakan untuk diulik lebih dalam, padahal sebenarnya masalah itu tidak terlalu urgent.

Jadi daripada harus berlama-lama berkutat dengan hal yang juga sebenarnya sepele, tanpa perlu disentuh pun akan kembali dengan sendirinya. Yang perlu anda lakukan adalah menunggu hingga muncul respon atau stimulus selanjutnya selagi anda tetap menjalankan pekerjaan yang utama. Pesan utamanya seperti itu.

Kalau anda masih agak bingung coba hubungkan teknik Napoleon ini dengan Eisenhower Decision Matrix. Eisenhower Decision Matrix adalah suatu diagram yang membantu untuk memetakan hal-hal dalam koordinat important-not important dan urgent-not urgent. Berfungsi untuk memudahkan proses pengambilan keputusan yang saling bertabrakan dalam waktu bersamaan.

Eisenhower Decision Matrix
Eisenhower Decision Matrix. Sumber

Nampak bahwa pekerjaan utama yang diprioritaskan, yang juga sudah pasti sifatnya urgent & important harus diletakkan diatas segalanya maka dari itu harus dilakukan dan diselesaikan terlebih dahulu "Do first" 

Nah baru kondisi seperti pada kasus di atas tadi terkait masalah pemberitahuan masalah minor yang terjadi saat ingin meng-copy file dari flashdisk teman. Kalau dilihat dari sifatnya bisa kita anggap important-not urgent, maka dari itu anda bisa memilih "decide" apakah ingin memperbaikinya segera atau menerapkan teknik Napoleon ini dengan melihat situasi selanjutnya terlebih dahulu. 

Manfaat

Manfaat utama dari penerapan teknik Napoleon ini adalah menyimpan waktu dan energi. Tentunya kita tidak memiliki sumber daya waktu dan energi yang tidak terbatas. Pasti setiap orang punya batasan tertentu ketika memang sudah waktunya lelah dan harus beristirahat ketika telah mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. 

Dengan menyaring apa-apa saja yang worth dan apa yang tidak worth untuk dilakukan kita bisa mengalokasikan diri pada hal yang lebih penting. 

Penggunaan teknik Napoleon juga bisa menghindarkan kita pada situasi prematur optimization, suatu kondisi dimana masih terlalu dini untuk meningkatkan efisiensi dalam mengerjakan sesuatu. Jadi ibaratnya mesin motor yang belum panas sempurna, atau kata orang harus perlu dipanasi dulu, motor sudah kita paksa digenjot hingga kecepatan maksimal. Sudah pasti performa motor akan tidak sesuai harapan, entah agak tersendat-sendat atau malah menimbulkan kerusakan dsb. 

Pengaplikasian

Pada kondisi apa teknik ini dapat diterapkan? Wah banyak sekali. Entah itu di tempat kerja, di sekolah atau dimanapun. Sangat fleksibel mengingat akan banyak sekali hal-hal yang kita hadapi entah itu urgent-not urgent atau important-not important.

Perlu diingat bahwa sebelum menerapkannya perlu dicari tahu dulu dampaknya ketika teknik ini diterapkan. Apakah hasilnya akan positif (mendatangkan manfaat) atau malah negatif (menimbulkan masalah yang berlipat-lipat)

Semakin bermanfaat potensi hasil akhirnya, maka akan sangat direkomendasikan untuk menundanya saja. Dengan begitu anda bisa fokus pada pekerjaan yang menjadi prioritas utama.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Teknik ini akan sangat cocok digunakan untuk menghadapi masalah yang bersifat non-urgent. Asalkan dampak akhirnya bagus dan hanya akan menghasilkan resiko yang sangat kecil, dapat dipastikan teknik Napoleon ini bisa anda terapkan.

Hal yang Perlu Dihindari

Perlu diketahui pula kalau teknik menunda seperti ini bukan berarti hal lain. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Ada fenomena yang disebut procrastination yang artinya juga menunda-nunda. Teknik Napoleon ini dilakukan bukan semata-mata hanya menunda, tetapi harus diketahui dulu manfaatnya apa. Apakah dengan menunda itu kita bisa menyimpan energi dan waktu kita.

Selain itu ada juga yang namanya Ostrich Effect. Ostrich Effect mungkin lebih tepatnya bisa dibilang sebagai kesalahpahaman. Dimana kita menunda dan menghindar dari masalah tersebut karena tidak suka. Sudah ada stigma negatif akan permasalahan tersebut sehingga kita enggan menindaklanjutinya. 

Pesan saya jangan sampai seperti itu ya kawan. Karena kembali lagi teknik ini bertujuan untuk mengeliminasi usaha berlebihan dalam melakukan sesuatu yang tidak terlalu darurat, sehingga harapannya pekerjaan utama dapat kita selesaikan dengan cepat dan efektif.

Baca juga artikel mengenai Cara-Cara Meningkatkan Produktivitas 


Semoga anda bisa mulai menerapkan prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari. Karena efek jangka panjangnya akan sangat baik, membentuk pribadi yang mampu bekerja lebih efektif dan tentunya lebih produktif.

Sering Merasa Kurang Produktif? Coba Cara-Cara Berikut ini untuk Meningkatkan Produktivitas!

Cara Terbaik Meningkatkan Produktivitas


Apapun pekerjaan Anda, produktivitas adalah harga mati. Terlebih di jaman dengan persaingan yang super ketat seperti sekarang ini. Oleh karena itu menjaga agar selalu menjadi insan berkualitas dan produktif, bukan lagi pilihan tetapi sudah sebuah keharusan.

Namun banyak sekali pekerja maupun profesional yang mengeluhkan tingkat produktivitas mereka. Hal ini wajar karena level stres serta gesekan antar kompetitor makin hari makin besar.

Untuk itu perlu sekali bagi semua orang yang ingin terus menjaga ambisinya dalam meniti jenjang karir serta kualitas kerja mempelajari aneka tips bermanfaat mengenai cara meningkatkan produktivitas.

Lantas apa saja yang harus dilakukan agar senantiasa bisa terus produktif. Inilah 6 cara terbaik untuk bisa mempertahankan produktivitas Anda, bahkan meningkatkannya ke level yang lebih tinggi lagi.

1. Tetapkan Tujuan

Terdengar sepele namun efeknya sangat besar bagi diri Anda. Sudahkah Anda menetapkan tujuan Anda? Jika belum, maka saatnya belum terlambat. Lakukan sekarang juga.

Ini bukan tentang suatu gambaran umum yang bisa Anda ciptakan ketika akan pergi tidur, melainkan sebuah goal yang detail serta cara untuk mencapainya.

Untuk itu, buatlah tujuan jangka pendek, tujuan jangka menengah dan tujuan jangka panjang. Hal ini juga akan melatih diri Anda untuk bisa menyusun hal-hal fundamental.

2. Fokus

Ternyata fokus adalah kunci dari kesuksesan. Orang-orang yang mampu menjaga daya fokusnya akan lebih baik dalam menjaga produltivitasnya. Sering kali gadget dan internet justru menjadi masalah dalam hal ini.


Baca juga artikel mengenai Mempelajari Hal Baru dalam Waktu Kurang dari 24 Jam


Salah satu cara terbaik serta termudah dalam menjaga daya fokus adalah mematikan sementara smartphone maupun gadget Anda ketika sedang fokus bekerja.

3. Memiliki Buku Harian

Buku harian bukan hanya sebagai upaya untuk memantau apa yang sudah Anda lakukan. Gunakan buku harian untuk merangkum to-do list, kontak penting, rencana mingguan, jadwal bulanan atau ide-ide yang terlintas di benak Anda.


Baca juga artikel mengenai Kumpulan Metode Mencatat yang Efektif


4. Memanfaatkan Aplikasi dan Gadget

Kenapa tidak memanfaatkan teknologi? Ada banyak aplikasi, baik di platform windows, android maupun apple yang dapat dipergunakan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas diri.

Beberapa aplikasi seperti Google Keep, Line Keep, Slack, TEDX maupun Samsung Notes akan sangat berguna. Cari dahulu apa masalah terbesar Anda, lalu cobalah untuk mencari aplikasi yang cocok sebagai solusi yang relevan.

5. Mencari Mentor

Mencari mentor yang tepat adalah salah satu solusi jitu jika Anda merasa ada penurunan cukup parah dalam hal kinerja. Mentor akan membantu menganalisa mana hal yang terluput dari pandangan Anda.

Namun mendapatkan mentor atau coach yang profesional juga bukan perkara mudah. Selain itu tentu saja Anda harus menyediakan budget yang tidak sedikit.

Di samping profesional, ada hal lain yang harus diperhatikan, yakni kecocokan dengan diri Anda. Setiap orang unik, untuk itu satu solusi tidak bisa dipakai pada semua kasus secara umum.

6. Mencari Lingkungan yang Mendukung

Bukan hanya mentor, Anda juga butuh lingkungan yang mendukung. Jauhkan diri dari teman toxic dan orang-orang yang hanya menghalangi diri dari mimpi-mimpi besar yang sudah Anda inginkan.

Mengutip dari Catatanadi.com, ternyata teman toxic justru sangat berbahaya. Mereka akan mencari cara untuk menjatuhkan Anda dari belakang ketika diri Anda lengah. Jauhi orang-orang yang demikian.

Justru yang Anda butuhkan adalah sahabat-sahabat yang bisa menjadi tempat saling tukar pengalaman atau berbagi ilmu baru serta mampu saling menguatkan. Di lingkungan yang penuh aura positif seperti ini, produktivitas Anda akan terjaga.

Kumpulan Metode Mencatat yang Efektif

Metode mencatat yang efektif


Untuk kalian para siswa, mahasiswa atau pembelajar yang senantiasa ingin mengembangkan diri.

Buat kalian yang pernah mengenyam bangku sekolah pasti dulu punya stigma kalau "anak pintar itu anak yang rajin mencatat" benar bukan?

Memang itu ada benarnya. Tetapi kalau ternyata kalian pernah menemui ada anak yang tidak pernah mencatat tapi kemampuan akademiknya bagus sekali, ya itu beda kasus. Sepertinya mereka memang punya keistimewaan untuk bisa memahami sesuatu dengan mudah tanpa mencatat. Oke saya tidak akan membahas lebih lanjut masalah itu.

Kembali lagi ke masalah catatan. Mencatat saat pelajaran berarti kamu harus mampu fokus paling tidak tiga hal, yaitu mendengarkan pemateri, mencerna materi dan menuliskan pemahaman tersebut di catatan.

Mencatat bisa dilakukan di buku, binder atau kertas selembar. Selama semuanya bisa ditulis tidak masalah

Percayalah, saya sendiri pun kadangkala tidak bisa mengikuti ritme pelajaran secara konstan. Ada kalanya saya butuh waktu yang lebih lama untuk bisa ngeh penjelasan yang diberikan sehingga akan ada jeda waktu yang bisa membuat kita sedikit tertinggal. 

Baca juga artikel mengenai Teknik Napoleon, Teknik Meningkatkan Produktivitas dengan Menunda Sesuatu


Nah maka dari itu, kalau memang berniat ingin mencatat suatu pelajaran / materi. Kalian harus mempersiapkan template atau mungkin bisa disebut rancangan catatan juga kali ya. Tujuannya untuk mempermudah proses catat mencatat selama pelajaran. Serta yang tidak kalah penting agar catatan bisa tetap terbaca dengan baik saat akan dipelajari lagi nantinya.

Kondisi kedua ini cukup krusial menurut saya. Entah kenapa catatan yang tidak terorganisir dengan baik itu akan membuat saya menjadi malas membacanya. Apakah kalian juga pernah seperti itu?

Jadi katakanlah kita sedang berada dalam posisi akan belajar untuk ujian. Dan kita sudah punya catatan mengenai materi yang diujikan. Tetapi setelah melihat sekilas catatan itu, rasanya sangat kurang nyaman untuk dibaca. Walaupun ternyata isinya lebih esensial karena ditulis berdasarkan pemahaman kita sendiri, tidak jarang saya malah beralih dari catatan sendiri menuju ke textbook atau rangkuman lain.

Dari situlah saya kadang merasa, catatan saya ini bukan cuma harus bagus isinya tapi juga harus bagus tampilannya. Agar masih bisa terbaca ketika dibutuhkan kembali. 

Nah pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan beberapa metode mencatat yang dikenal cukup efektif untuk dicoba untuk kalian siswa, mahasiswa atau siapapun yang ingin meningkatkan kualitas catatannya.

1. Metode Outline

Metode ini adalah salah satu metode yang sering dipakai dan dikenal. Strukturnya sangat sederhana dan tertata dengan baik. Metode Outline ini sangat cocok untuk menuliskan materi yang terdiri atas beberapa topik, subtopik serta penjelasan lebih lanjutnya.

Ciri khas dari metode Outline ini adalah menggunakan bantuan bullets dalam setiap struktur kalimatnya. Kira-kira bentuknya seperti ini.

mencatat-metode-outline

Kalian bisa dengan mudah menuliskan poin-poin utama dari penjelasan materi dan juga menambahkan penjelasan terkait pada struktur dibawahnya.

2. Metode Cornell

Metode ini dipopulerkan oleh Prof. Walter Pauk dari Cornell University pada tahun 1950an. Wah sudah lama sekali ya. Metode Cornell ini bisa diidentifikasi dengan catatan yang dibagi menjadi 3/4 bagian seperti pada gambar ini.

metode-cornell

Bagian atas adalah tempat untuk menuliskan judul dan tanggal (ini sifatnya opsional). Buat garis untuk mengambil bagian bawah catatan dengan tinggi mungkin sekitar 3-4 cm (sesuaikan dengan selera). Lalu bagian tengah catatan dibagi menjadi dua bagian dengan proporsi kira-kira 30% (sebelah kiri) dan 70% (sebelah kanan). 

Materi utama dituliskan pada bagian kanan ini. Bisa dituliskan penjelasan utama, poin-poin penting atau ilustrasi gambar tabel yang mungkin bisa kamu sertakan juga untuk memperkuat catatanmu. 

Sedangkan di bagian kiri cukup dituliskan beberapa kata kunci dari penjelasan yang telah kamu tulis tadi di sebelah kanan. Ini bertujuan untuk meng-highlight poin-poin yang perlu kamu pelajari atau ulas lebih lanjut nantinya.

Terakhir adalah bagian bawah. Disini adalah tempat untuk menulis summary atau kesimpulan dari catatan kamu tadi. 

Menurut saya keunggulan dari teknik ini adalah catatan menjadi lebih terstruktur dan sistematis. Peletakan jenis informasinya jelas dan akan lebih mudah dibaca ketika akan dipelajari lagi. 

Tetapi yang bikin agak mager adalah kita harus membuat template-nya terlebih dahulu. Jadi sebelum mulai kelas kamu harus menggaris-garis dulu kertas catatanmu. Kadangkala saya agak lupa juga kalau ternyata belum menyiapkannya. 

Selain itu kalian juga diharuskan untuk mereview dan menuliskan ulang satu kalimat yang menyimpulkan keseluruhan materi yang telah kamu catat itu. Jadi kalau kurang terbiasa me-review, maka akan sedikit membutuhkan waktu tambahan untuk bisa merangkumnya.

3. Metode Mapping

metode-mencatat-mapping

Kalian pernah membuat mind-map? Kira-kira seperti itulah bentuk dari metode Mapping ini. Catatan diawali dengan satu topik utama. Kemudian dikembangkan menjadi beberapa subtopik. Dan dari subtopik itu terus dikembangkan lagi menjadi penjelasan yang lebih spesifik.

Metode Mapping ini akan sangat berguna untuk memperlihatkan sebab akibat (kausalitas) antara satu penjelasan dengan penjelasan yang lain. 

4. Metode Charting

metode-mencatat-yang-menggunakan-template-kolom-di-kategori

Selanjutnya ada metode Charting. Metode ini menggunakan semacam tabel untuk mengatur kontennya. Menggunakan template kolom-kolom yang diberi kategori. Sangat berguna terutama ketika materi yang dipelajari mengandung banyak sekali informasi mengenai fakta, data, perbandingan keunggulan dan kekurangan.

Metode ini lebih cocok diterapkan ketika kalian ingin menghafal banyak materi dalam sekaligus. Semua informasi yang tersedia sudah tersusun rapi dalam kolom-kolom tersebut.
Saya pun pernah menggunakan metode ini untuk menghafal dari tiga topik sekaligus, disitu saya menuliskan informasi-informasi yang diperlukan. Contohnya adalah mengenai definisi, keunggulan, kekurangan dan aplikasinya.

Dan hasilnya sangat positif. Materi yang kalau dibaca lewat textbook mungkin akan terasa bejibun, dengan menggunakan metode ini poin-poin utama menjadi lebih ter-highlight dan juga mampu memperlihatkan perbandingan antara topik-topik berkaitan. 

Butuh waktu lama untuk mengumpulkan informasi yang cukup banyak seperti itu. Jadi metode ini kurang cocok untuk diterapkan waktu mendengarkan materi di kelas. Metode ini lebih cocok dipakai ketika kalian belajar mandiri di rumah.

5. Metode Kalimat

Ini mungkin metode yang paling sering digunakan karena paling simpel dan mudah. Modelnya ya seperti catatan pada umumnya, isinya suatu topik lalu dituliskan penjelasannya berupa kalimat-kalimat panjang. 

metode mencatat yang efektif

Untuk kalian yang terbiasa dan mampu mengikuti ritme pengajar dengan baik. Metode ini bisa digunakan tanpa harus khawatir ketinggalan kereta materi.

Selain itu karena bentuknya yang simpel kalian hanya tinggal langsung menulis materinya di kertas. Tidak perlu repot-repot membuat outline catatannya terlebih dahulu seperti metode-metode yang lain.

Jadi buat kalian yang mungkin belum terbiasa untuk mencatat, saya sangat menyarankan agar mulai berusaha mencatat. Agar materi-materi yang kalian pelajari entah itu di kelas atau di platform pembelajaran manapun tidak langsung menguap begitu saja. 

Setidaknya dengan mencatat otak kita akan mencerna dan menyimpan hal-hal baru tersebut, walaupun sedikit. Tetapi dengan begitu dengan banyak latihan kamu akan mampu menghubungkan satu informasi dengan informasi yang lain. Dimana informasi tersebut akan lebih mudah diingat lewat catatan.

Maka dari itu segera siapkan kertas atau binder kalian dan buat template nya sekarang juga.  

Nah dari tulisan ini, metode mana yang paling cocok untuk diri kalian? Karena seberapa efektif catatan itu ya bergantung pada kalian sendiri. Kalian bisa menentukan mana yang cocok dan mana yang tidak setelah mencobanya. Semoga bisa menjadi referensi untuk meningkatkan kemampuan mencatat kalian bisa menjadi semakin lebih baik lagi.

Mempelajari Hal Baru dalam Waktu Kurang dari 24 Jam

Mempelajari Hal Baru dalam Waktu Kurang dari 24 Jam

Mempelajari Hal Baru dalam Waktu 24 Jam

Teknik mempelajari hal baru dalam waktu 24 jam mungkin agak menyesatkan dan ambigu ya kalau pertama kali dibaca. Karena jika bertanya kepada seorang ahli yang berpengalaman dalam suatu bidang, kemungkinan besar dia akan menjawab perlu ratusan bahkan ribuan jam untuk bisa mendalaminya. 

Tetapi sebelum bergerak lebih jauh, coba bedakan terlebih dahulu antara "cukup bagus dalam suatu hal" versus "ahli dalam suatu hal". Seseorang dikatakan ahli jika sudah mencapai titik terjauh dalam pemahaman akan sesuatu. Sedangkan orang yang sudah cukup paham berarti dia sudah bisa mengatasi permasalahan terkait bidang tersebut dengan cukup baik. 

Apakah dari sini sudah agak jelas? Oke mari kita lanjut 

Belajar adalah proses yang mengubah seseorang dari yang awalnya tidak tahu apa-apa atau tidak kompeten menjadi cukup baik dalam melakukan sesuatu. Contoh kita sebagai orang Indonesia sudah pasti paham dan mengerti mengenai bahasa kita sendiri, Bahasa Indonesia. Serta bahasa-bahasa daerah kita masing-masing. Lalu kita ingin mempelajari bahasa asing, maka yang dilakukan adalah belajar sedikit demi sedikit bahasa asing tersebut. Namun tujuan akhirnya bukan untuk mengetahui tatabahasa seluruhnya, tetapi hanya untuk sekadar paham kalau ada orang yang berbicara dengan bahasa asing tersebut. 

Baca juga artikel mengenai Metode Mencatat yang Efektif


Nah inilah yang dimaksud dengan "cukup baik dalam sesuatu" tadi. Tujuan akhir untuk sekadar menjadi cukup baik  ini bisa digunakan sebagai motivasi yang kuat dalam mempelajari sesuatu. Karena adanya motivasi dan alasan yang kuat akan memudahkan kita dalam meraih tujuan pembelajaran tersebut. 

Lalu apa saja langkah yang harus dilakukan dalam waktu 24 jam tersebut?

Identifikasi Skill-Skill yang Harus Dipelajari 

Suatu skill mayor pasti terdiri atas beberapa bagian skill minor yang lebih kecil. Maksudnya seperti apa? Contoh simpel. Anda ingin mempelajari cara memasak nasi goreng yang enak untuk anda konsumsi sendiri. Skill utamanya disini adalah memasak nasi goreng. Nah skill memasak nasi goreng ini bisa kita bedah lebih lanjut untuk mengetahui seluk-beluknya. 
belajar hal baru
Ilustrasi proses breakdown skill

Dalam memasak nasi goreng anda perlu tahu peralatan apa saja yang harus disiapkan, bahan-bahan nya apa saja, bagaimana teknik memasaknya dll. Jadi tiap-tiap skill minor ini haruslah dipahami betul supaya anda bisa mempraktekkan kemampuan mayornya yaitu memasak nasi goreng. 

Setelah anda mampu membedah apa saja skill-skill minor tersebut, selanjutnya anda harus mengidentifikasi skill minor mana yang paling berguna untuk mendapatkan hasil yang maksimal. 

pareto principle
Pareto Principle

Saya ingin sedikit menjelaskan mengenai Pareto's Principle atau aturan 80:20. Pareto's Principle ini menyatakan bahwa dalam suatu kejadian, 80% hasil yang kita dapatkan itu hanya dipengaruhi 20% usaha yang dilakukan. Apakah anda bingung? Mari coba pahami dengan sesuatu yang mungkin lebih mudah dipahami. 20% dari pakaian anda itu berwarna hitam sisanya adalah warna lain. Tetapi dalam kenyataannya hampir 80% pilihan anda selalu memilih untuk memakai pakaian berwarna hitam dalam acara tertentu yang mengharuskan anda memilih suatu warna tertentu. 

Jadi maksudnya disini kita hanya perlu memaksimalkan skill-skill minor yang paling utama karena hal itulah yang paling berkontribusi pada keberhasilan belajarnya nanti. Karena kembali lagi, tujuan akhirnya cuma agar menjadi orang yang cukup baik dalam hal tersebut.

Belajar Secukupnya 

Karena tujuan akhirnya adalah menjadi "cukup baik" dalam sesuatu, artinya kita tidak perlu mendalaminya sedalam mungkin. Cukup dibatasi sampai suatu titik dimana akhirnya kita bisa mengkoreksi kinerja kita kalau terjadi permasalahan tertentu. 

Jauhkan Diri dari Hambatan 

Belajar secara efektif adalah suatu keharusan kalau berkeinginan untuk mempelajari sesuatu dalam waktu yang singkat. Bagaimana bisa berlatih dengan baik kalau masih ada saja hambatan yang mengganggu. Maka dari itu, anda harus menyingkirkan atau menghindari terlebih dahulu hal-hal yang berpotensi menjadi distraksi dalam proses latihan, sehingga bisa lebih fokus. 

Berlatih selama 20 Jam

Inilah langkah terakhir yang harus dilakukan, apalagi kalau bukan latihan itu sendiri. Tapi pelu digaris bawahi kalau disini maksudnya bukan latihan selama 20 jam nonstop. Saya yakin tidak akan ada orang yang punya ketahanan seekstrem itu.


Strateginya adalah latihan secara berkala. Katakanlah kita meluangkan waktu sekitar 30 menit setiap hari dengan fokus melatihnya. Jadi kira-kira anda akan butuh waktu 40 hari agar bisa mencapai tujuan akhir sebagai orang yang cukup baik dalam sesuatu. 

Mungkin anda sedikit kecewa ya dengan ending-nya ini karena tidak sesuai dengan ekspektasi yang saya tuliskan di judul awal. Tetapi jangan patah semangat, karena belajar itu pasti butuh proses. Dan kita tidak akan pernah bisa merasakan hasilnya kalau tidak mau memulai. 

Saya ada cuplikan quote dari Brian Herbert,
The capacity to learn is a gift; The ability to learn is a skill; The
willingness to learn is a choice
Setiap orang itu punya kemampuan untuk belajar. Yang membedakan antara satu dengan yang lain hanyalah dari segi kemauannya. Siapa yang punya kemauan dialah yang punya kemungkinan lebih besar untuk berhasil. 

Baca juga artikel mengenai Live at Your Own Pace


Jadi jangan ragu untuk mulai mempelajari sesuatu dengan tambahan trik yang saya jelaskan ini. Terus semangat dan terus jaga konsistensi dalam mengembangkan diri menuju kearah yang lebih baik.

Akhir kata dari saya
Terima kasih